Sabtu, 27 November 2010

Mitos-Mitos Mengenai Kesehatan Anak

(Aspek Sosial Budaya Yang Berhubungan Dengan Kesehatan Anak)      
       Di era zaman globalisasi ini, kesehatan anak merupakan hal yang cukup memprihatinkan. Terdapat banyak sekali kasus anak-anak yang terkena penyakit tertentu karena tidak tercukupi kebutuhan gizi sang anak tersebut seperti banyak anak-anak di pelosok desa yang orangtuanya hanya sekedar memberi kebutuhan gizi kepada anak-anak mereka yang umumnya berkaitan dengan factor ekonomi. Saat ini perkembangan tehnologi medis kian canggih namun meski demikian, secanggih apapun tehnologi yang berkembang tidak menghilangkan sejumlah mitos yang diyakini masyarakat. Bahkan mitos yang ada justru lebih dipercaya ketimbang nasehat dokter atau tenaga medis lainnya. Terlebih mitos mengenai kesehatan anak, orang zaman dahulu mempercayai bahwa jika melakukan sesuatu yang telah lama dilakukan oleh pendahulunya maka mereka juga akan melakukan itu pada anak-anak mereka. Padahal hal tersebut akan menjadi penghambat pertumbuhan dan kesehatan anak tersebut. Sehingga anak mudah sekali terserang penyakit.
       Adapun mitos-mitos yang berkembang di masyarakat dewasa ini, seperti jika rambut anak anda basah maka anak tersebut akan masuk angin namun faktanya pakar kesehatan Jims Scars mengatakan dari riset yang dilakukan di Ingggris dimana setengah kelompok anak dibiarkan dalam ruangan yang hangat sedangkan sisanya berada di lorong dengan kondisi basah kuyup. Setelah beberapa jam, kelompok yang berada di lorong tidak mengalami pilek atau flu, keadaan basah atau kedinginan belum tentu mempengaruhi system kekebalan secara langsung. Adupun mitos lainnya seperti anak perlu makan ketika kedinginan dan meminum banyak air ketika anak tersebut demam, faktanya hal yang seharusnya adalah menjaga cairan tubuh merupakan hal terpenting yang harus dilakukan, ketika seseorang memiliki banyak cairan maka semakin mudah terkena penyakit meski demikian anak tersebut tidak perlu mengkonsumsi minuman elektrolit bila tidak mengalami dehidrasi atau diare, selain dua mitos yang berkembang dia tas, masih terdapat beberapa mitos umum yang berkembang dewasa ini seperti bahwa seorang anak akan kehilangan 75%  panas tubuh melalui kepala, mitos seperti ini berkembang karena keharusan kepala bayi yang baru lahir ditutupi ketika cuaca dingin. Hal ini dibenarkan karena kepala bayi memiliki prosentase lebih besar daripada bagian tubuh lainnya. Akan tetapi ketika sudah besar, keluarnya panas melalui kepala kepala hanya 10%, sisanya panas tubuh keluar melalui kaki, lengan dan tangan.
       Adapun mitos-mitos lain yang berkembang yang patut diketahui oleh para orang tua agar dapat mengetahui dan memahami fakta dari mitos-mitos yang berkembang dewasa ini seperti mengenai vitamin, hal ini sangat perlu diketahui agar tak salah langkah. Seperti bahwasanya seorang anak kurus karena kekurangan vitamin. Orang sering berpikir, anak yang gemuk dan lincah pastilah sehat padahal faktanya belum tentu anak gemuk belum tentu tercukupi kebutuhan vitaminnya. Pasalnya, tubuh yang besar relatif butuh makanan lebih banyak. "Bisa jadi, anak yang gemuk tersebut kurang darah alias mengidap anemia."  Biasanya pada saat lahir, anak tersebut mendapat cadangan makanan (baik zat besi maupun vitamin) yang cukup dari ibunya namun seiring pesatnya pertumbuhan, ia ternyata relatif kekurangan vitamin pembentukan darah. Untuk itu harus mendapat tambahan asam folat, zat besi, dan vitamin C. Sebaliknya, seorang anak yang kurus juga belum tentu kekurangan vitamin. Pemikiran bahwa anak gemuk itu sehat dan anak kurus tidak sehat, jelas pemikiran ini salah karena patokannya sekarang adalah tumbuh dan kembang. Untuk mengetahui apakah seorang anak  cukup ideal, bisa menggunakan alat ukur grafik berat, tinggi dan umur yang saling dibandingkan. Selain itu, faktor genetik pun bisa mempengaruhi anak menjadi kurus, gemuk, pendek, tinggi, dan lainnya. Selain mitos bahwa seorang anak kurus karena kekurangan vitamin, terdapat beberapa mitos lain seperti apabila nafsu makan seorang anak hilang, cekok saja anak tersebut dengan vitamin, seringkali kita melihat orang tua yang dengan sembarangan mencekokkan vitamin pada anaknya yang sulit makan. Mencekokkan vitamin dianggap bisa mengembalikan nafsu makan anak padahal hilangnya nafsu makan anak disebabkan banyak hal seperti karena sakit tenggorokan, sariawan, gigi tumbuh, gigi copot, anak flu, atau bisa juga karena anak tersebut terkena TBC. Pemberian vitamin yang berlebihan justru bisa membuat anak kehilangan nafsu makan terutama jika anak kehilangan vitamin C atau asam askorbat. Asam jika dimakan berlebih akan menyebabkan perut perih. Apalagi jika anak makan tidak teratur, bisa saja terjadi luka di lambung tetapi pada anak keci atau anak usia perumbuhanl hal ini jarang terjadi. Adapun penyakit mag yang umumnya diderita orang dewasa. Untuk itu sebaiknya mengkonsumsi vitamin sesuai dosis wajarnya 50 mg. Jangan termakan iklan yang menyebutkan bahwa menelan vitamin dosis tinggi (sampai 1.000 mg) bisa membantu stamina tetap kuat dan tidak sakit-sakitan. Adapun mitos lain yang berkembang bahwa  dengan mengkonsumsi vitamin membuat seorang anak lebih cerdas namun faktanya vitamin memang bisa membuat anak cerdas, namun tetapi prosesnya tentu saja tidak langsung. Cerdas itu terjadi karena anak mengalami perkembangan. Misalnya cepat bicara, berjalan, bermain, dan lainnya. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar